SUMBERNEWS, BUNGO – Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bungo mulai memanas. Dua pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati secara terbuka telah menyatakan pasangan mereka, yaitu Jumiwan Aguza – Maidani (JADI) dan Dedy Putra – Tri Wahyu Hidayat (Dedi – Dayat). Kedua pasangan ini mengklaim telah mengantongi 20 persen kursi DPRD sebagai syarat pendaftaran ke KPU. Baik Jumiwan Aguza maupun Dedy Putra dikabarkan tengah menjemput rekomendasi partai politik.
Selain kedua pasangan bakal calon tersebut, muncul pertanyaan apakah akan ada poros baru dalam Pilkada ini. Pemerhati politik Bungo, Roy Imron, menyatakan bahwa tiga partai pemenang legislatif di Kabupaten Bungo, NasDem, Demokrat, dan Gerindra akan menjadi partai pengusung utama. NasDem sebagai pemilik suara terbanyak pada Pileg DPRD Bungo akan mengusung Jumiwan Aguza yang notabene adalah Ketua DPD NasDem Bungo.
“Tergantung pada dinamika perseteruan antara ketiga partai ini dalam konteks kepentingan lima tahun ke depan, apakah mereka akan membentuk poros baru,” katanya Selasa (13/08).
Seharusmya kata mantan Komisioner KPU Bungo ini, baik Demokrat maupun Gerindra wajib memunculkan calon baru. Mengingat Demokrat memiliki 6 kursi DPRD dan akan menduduki posisi Wakil Wakil Ketua I. Sementara Gerindra memiliki 5 kursi DPRD dan posisi sebagai Wakil Ketua II DPRD.
“Nanti tiba-tiba jadi pengusung-kan jadi tanda Tanya, hal yang wajib sih memunculkan calon demi kepentingan politik lima tahun kedepan,” paparnya.
“Teka-teki terakhir adalah Gerindra dan Demokrat,” ketusnya.
Roy Imron menambahkan bahwa Pilkada adalah arena untuk mempertunjukkan “niat baik” melalui gagasan yang berakar dari permasalahan masyarakat. Pilkada dan pemilihan legislatif (Pileg) memiliki perbedaan signifikan, terutama pada tahap debat publik, di mana gagasan dan niat baik diuji melalui visi dan misi calon. Apakah gagasan tersebut benar-benar lahir dari masyarakat atau hanya sekadar retorika untuk menjual harapan.
“Perbedaan inilah yang akan menjadi partisipasi publik dalam membahas visi misi yang di kemukakan calon,” tambahnya.
Kata dia, jika visi dan misi menarik dan relevan, ini akan mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih yang datang ke TPS. “Pemilih diharapkan memilih berdasarkan solusi yang ditawarkan dalam visi dan misi secara objektif, bukan hanya berdasarkan emosi,” tukasnya. (red)















