Wisuda ke-17 UMB, Cetak 213 Sarjana Baru dan Tekankan Administrasi Lingkungan Berkelanjutan

SumberNews, Muara Bungo Universitas Muara Bungo (UMB) kembali menggelar Wisuda ke-17 Program Sarjana (Strata 1) Tahun 2025, Selasa (23/12). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dan resmi menyandang gelar sarjana.

Sebanyak 213 mahasiswa dari berbagai program studi mengikuti prosesi wisuda, di antaranya dari Fakultas Pertanian, Bahasa, Hukum, Peternakan, Ekonomi, dan Teknik.

Rektor Universitas Muara Bungo, Dr. Syafrialdi, S.Pi., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal pengabdian lulusan kepada masyarakat. Ia berharap para sarjana UMB mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.

Acara wisuda turut dihadiri oleh pendiri sekaligus pembina Universitas Muara Bungo Drs. H. Zulfikar Achmad, yang juga Anggota Komisi IX DPR RI, perwakilan LLDIKTI Wilayah X, unsur Forkopimda, perwakilan Bupati Bungo, civitas akademika UMB, serta tamu undangan lainnya.

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan penuh makna. Salah satu tradisi yang menjadi perhatian adalah penyiraman beras kuning oleh Ketua Yayasan dan Rektor UMB kepada para wisudawan. Tradisi ini melambangkan rasa syukur dan doa agar para lulusan diberikan keberkahan, kemakmuran, serta kesuksesan dalam menapaki masa depan.

Selain prosesi wisuda, kegiatan juga diisi dengan orasi ilmiah bertajuk “Administrasi Lingkungan: Jembatan Antara Pembangunan dan Keberlanjutan di Masa Depan (Perspektif Strategis bagi Kemajuan Kabupaten Bungo)” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Drs. H. Rahmat Salam, M.Si, dosen dan peneliti Program Studi Doktor Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Dalam orasinya, Prof. Rahmat Salam secara khusus menyoroti isu pertambangan di Kabupaten Bungo, terutama aktivitas tambang emas yang meninggalkan lubang-lubang terbuka tanpa reklamasi. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya masalah teknis, tetapi juga kegagalan dalam administrasi dan pengawasan lingkungan.

Ia menegaskan bahwa jaminan reklamasi seharusnya menjadi tanggung jawab moral dan hukum yang wajib ditegakkan, bukan sekadar formalitas administratif. Jika dibiarkan, aktivitas pertambangan tanpa pengelolaan yang baik berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan jangka panjang, mengancam keselamatan masyarakat, serta mewariskan dampak buruk bagi generasi mendatang.

Selain pertambangan, Prof. Rahmat Salam juga menyinggung alih fungsi hutan dan dominasi perkebunan sawit yang berisiko merusak keseimbangan ekosistem, termasuk daerah aliran sungai di Kabupaten Bungo. Ia menekankan pentingnya tata ruang yang jelas dan pengawasan yang konsisten agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian alam.

“Transformasi Pemda Bungo mengupayakan WIUP dan kemudian IPR secara baik dan benar, akan menuju green bureaucracy – birokrasi yang memprioritaskan kelestarian lingkungan sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan daerah,”

Kepada para wisudawan, Prof. Rahmat Salam berpesan agar menjadi generasi solusi yang peduli terhadap lingkungan. Ia mendorong para lulusan untuk berperan aktif menjaga alam, baik sebagai birokrat yang berintegritas, pengusaha yang bertanggung jawab, maupun masyarakat sipil yang kritis terhadap kebijakan lingkungan.

“Kepada para Wisudawan Universitas Muara Bungo, Kalian adalah darah baru bagi Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun ini. Ilmu yang kalian dapatkan di kampus ini harus menjadi senjata untuk memperbaiki keadaan. Jangan menjadi sarjana yang abai,” harapnya.

Wisuda ke-17 Universitas Muara Bungo ini menjadi penegasan komitmen UMB dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan kepedulian terhadap persoalan lingkungan, khususnya terkait isu pertambangan dan keberlanjutan alam di Kabupaten Bungo.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY