Opini : Anak Kerinci di Persimpangan Layar HP dan Buku Pelajaran

Oleh: Jonni Tetra Deka

Kerinci selama ini dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekuatan nilai adat dan agama yang membentuk karakter masyarakatnya. Pendidikan dan akhlak menjadi fondasi utama dalam kehidupan sosial.

Namun, di tengah arus perkembangan teknologi, generasi muda Kerinci kini berada di persimpangan: antara layar handphone dan buku pelajaran.
Fenomena anak-anak yang lebih akrab dengan gadget dibandingkan buku semakin nyata. Di berbagai ruang, perhatian mereka terserap oleh layar. Fungsi teknologi sebagai alat bantu belajar bergeser menjadi sumber hiburan yang dominan. Akibatnya, minat membaca menurun, konsentrasi belajar melemah, dan disiplin mulai tergerus.

Kondisi ini bukan sekadar asumsi. Berbagai laporan menunjukkan penggunaan internet pada anak terus meningkat, dengan aktivitas yang lebih banyak didominasi hiburan. Di sekolah, dampaknya terasa langsung: siswa mudah kehilangan fokus, kurang tahan mengikuti pelajaran, bahkan cenderung mengabaikan tugas.

Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter. Tanpa itu, anak berisiko kehilangan arah. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan sejatinya menuntun anak menuju keselamatan dan kebahagiaan.

Dalam konteks hari ini, tuntunan itu termasuk dalam cara memanfaatkan teknologi.

Dampak penggunaan gadget berlebihan juga mulai terlihat: penurunan prestasi, gangguan pola tidur, hingga melemahnya kemampuan sosial. Interaksi di dunia maya bahkan memicu konflik di dunia nyata, seperti perundungan antar siswa.

Namun demikian, teknologi tidak sepenuhnya menjadi musuh. Di sisi lain, ia membuka akses luas terhadap pengetahuan. Persoalannya bukan pada alat, melainkan pada cara penggunaan.
Di sinilah peran orang tua dan sekolah menjadi krusial.

Pengawasan, pendampingan, dan keteladanan harus berjalan beriringan. Sekolah dituntut lebih kreatif memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran, bukan sekadar melarang penggunaannya.

Kerinci memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah: nilai adat dan agama yang kuat. Nilai ini semestinya menjadi benteng moral dalam menghadapi derasnya arus digitalisasi. Jika dijaga, generasi muda tidak akan mudah hanyut.
Akhirnya, keseimbangan menjadi kunci. Anak perlu diajarkan mengelola waktu antara belajar dan penggunaan gadget. Tanpa itu, teknologi akan lebih banyak mengendalikan daripada memberi manfaat.

Masa depan Kerinci ada di tangan generasi mudanya. Pertanyaannya sederhana: apakah mereka akan menjadi pengguna yang bijak, atau justru korban dari teknologi yang tak terkendali?

Profil Penulis : Jonni Tetra Deka, S.Pd.I, adalah seorang pendidik aktif yang saat ini bertugas di salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi . Selain mengabdi sebagai praktisi di dunia Pendidikan, ia juga merupakan Mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci yang menaruh perhatian besar pada kebijakan publik di bidang pendidikan, pemerataan kualitas mutu sekolah, serta transformasi SDM di wilayah kerinci.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY